Bahan Ajar SMK Teknik Mekanik Otomotif

Tehnik Kendaran Ringan

Rabu, 21 Maret 2012

PSIKOLOGI LINGKUNGAN PERKOTAAN


BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Selama ini jika kita mempelajari kota atau lingkungan perkotaan dalam kaitannya dengan warganya, maka kita cenderung melihatnya secara agregatif/perbandingan/membandingkan, apakah dari aspek lingkungan ekonomi, sosial, budaya maupun politiknya. Apalagi makin besar kotanya maka makin kompleks labirinnya dan semakin mudah warganya menjadi tersesat atau disesatkan.
Prediksi bahwa penduduk dunia  akan semakin banyak yang tinggal di perkotaan zaman ini semakin menjadi kenyataan. Permasalahan perkotaan yang sedemikian kompleks dengan karakteristik umum yang menonjol, yaitu kemiskinan massal dan pertumbuhan kawasan-kawasan kumuh, memerlukan penanganan-penanganan yang cepat, konseptual, dan komprehensif.
Menyinggung masalah kota yang dalam hal ini adalah kota DKI Jakarta, memang jika kita bandingkan dengan era 1960-an dengan era sekarang ini memang sangat jauh berbeda. Setelah kurang lebih 50 tahun berlalu, rencana induk kota Jakarta sudah mengalami 3 kali penyesuaian dan perlahan-lahan proses konurbasi yang liar telah mengubah Jakarta dari kota metropolitan menjadi megapolitan dan tanpa sadar pula arah perkembangannya juga membawa dampak negatif bagi kehidupan warga kota, bukan saja ruang terbuka semakin terbatas, namun juga telah mengubah prilaku warganya menjadi individualistis, bringas dan konsumtif. Sehingga ada yang mengatakan bahwa budaya Indonesia yang ramah, murah senyum sulit lagi ditemukan di Ibukota Jakarta.
Ketidak mampuan untuk memutuskan mana yang pokok (vital) dan mana yang cabang (asesoris) membuat bencana yang lebih besar telah menghadang didepan dan berbagai masalah baru pun bermunculan. Hal inilah yang kadang menyebabkan Jakarta kurang bersahabat lagi bagi warganya dan warga pendatang. Sehingga saat ini, pola kehidupan warga kota Jakarta pun berubah.
Dari hal inilah penulis mengangkat masalah ini untuk dijadikan karya ilmiah yang berbentuk makalah.
1.2   Rumusan Masalah
Dari sedikit penjelasan diatas, maka muncul masalah yaitu :
a.         Apa yang dimaksud dengan psikologi perkotaan ?
b.        Apa saja yang menjadi masalah di kota besar seperti Jakarta ?
c.         Apa saja yang mempengaruhi pola hidup masyarakat kota Jakarta ?
1.3   Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan psikologi perkotaan, apa saja yang menjadi masalah di kota seperti Jakarta, dan apasaja yang mempengaruhi pola hidup masyarakat kota Jakarta.
1.4   Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metodologi kepustakaan.






BAB II
PEMBAHASAN
PSIKOLOGI LINGKUNGAN PERKOTAAN

2.1 Pengertian Psikologi Perkotaan
Pengertian psikologi mengacu pada uraian sebelumnya adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan peristiwa mental individu, baik manusia maupun hewan dalam hubungan dengan alam sekitar atau lingkungan. Namun, secara spesifik psikologi lebih dikhususkan pada penguraian mengenai tingkah laku manusia. Tingkah laku dalam psikologi melibatkan peristiwa mental yang terjadi dalam manusia itu sendiri. Lingkungan disini mencakup semua manusia, gejala, keadaan barang/ peristiwa-peristiwa di sekitar manusia.
Psikologi Perkotaan adalah bidang ilmu yang menganalisis pengaruh penataan ruang kota  terhadap faktor psikologis penghuninya. Dalam hal ini dapat digambarkan sebuah kota besar yang memiliki bangunan yang megah, berpenduduk padat dan memiliki banyak akses dalam memenuhi kebutuhan dan menjadi pusat pemerintahan. Contoh yang cukup nyata dalam hal ini adalah ibukota Indonesia, yaitu DKI Jakarta.

2.2Paradoks Ruang Publik : Kesepian Di Tengah Keramaian
2.2.1        Jakarta Kota Cuek
Bertambahnya pendatang yang tinggal dalam suatu lingkungan dan silih bergantinya orang baru yang datang dari hari kehari, pada akhirnya membuat seseorang tidak lagi memperhatikan orang-orang disekitarnya. Tidak ada hubungan yang erat antar tetangga, bahkan tetangga sebelah rumah pun kita cuek. Waktu dari para warga kota lebih banyak dipakai untuk aktivitas rutin daripada dihabiskan dengan tetangga.
Fenomena cuek ini terjadi tidak hanya dilingkungan hunian, tetapi juga di ruang publik yang seharusnya menjadi tempat untuk memudahkan interaksi sosial. Dahulu, ruang publik seperti taman kota, alun-alun, bahkan ruang publik indoor seperti perpustakaan, menjadi tempat berkumpul dan berinteraksi serta menjadi bagian hidup warga kota.
Dari tahun ke tahun, ruang publik makin menghilang dari budaya warga Jakarta. Waktu luang telah dikomersilisasikan bersamaan dengan semakin berkembangnya internet dan perabotan elektronik lainnya seperti playstation, DVD, video game dan lain-lain. Ketika warga semakin terkurung didalam rumah, mereka pun semakin terisolasi dari sesamanya dan terkotak-kotak dalam jenis pekerjaan tertentu.
2.2.2        Intenet dan Isolasi Sosial
Sejalan dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK ), internet pun berkembang dengan pesat dan menjadi gaya hidup baru warga kota. Semakin meningkatnya jumlah orang yang terus menggunakan e-mail bukan hanya untuk korespondensi bisnis, tetapi juga untuk tetap berhubungan dengan para sahabat dan keluarga.
Namun dalam hal ini, internet dapat merusak interaksi sosial. Bentuk-bentuk hiburan seperti musik dan menyaksikan siaran TV langsung memungkinkan terjadinya pengasingan sosial. Memang dengan adanya fasilitas internet kita dapat berkomunikasi dengan orang-orang jarak jauh secara langsung secara online, namun coba kita lihat orang-orang disekitar kita yang jelas-jelas dekat denga kita, mereka terabaikan dari interaksi ini. Dengan kata lain internet (chatting, e-mail dll) mendekatkan yang jauh, namun menjauhkan yang dekat.

2.2.3        Ruang Publik Untuk Interaksi Sosial
Masalah yang terjadi di kota kita sendiri pada zaman modernisasi ini, seperti yang diuraikan diatas harus dipecahkan secara sosial pula. Dalam hal ini diperlukan provisi sosial yang mampu memberikan cara kolektif untuk mencari solusi bagi semua orang yang semakin terisolasi di ruang publik. Desain arsitektur dan unsur-unsur ruang publik dapat digunakan untuk menciptakan lingkungan yang menyenangan dalam melakukan interaksi sosial. Pendekatan fisik ini menjadi efektif hanya jika perhatian orang-orang dipusatkan pada fitur-fitur ruang publik yang menyenangkan. Oleh sebab itu, desain-desain sosiopetal (formasi yang mendorong terjadinya interaksi sosial) melalui pengaturan tempat-tempat duduk di ruang publik juga dapat menciptakan komunikasi sosial yang pada akhirnya menarik orang pada jarak nyaman untuk bercakap-cakap dan memaksa mereka saling berhadapan satu sama lain secara langsung.


2.3Gaya Hidup Warga Kota : Dari Mall ke Mall
2.3.1        Jakarta Kota Mal
Pada tahun 2007 saja, jumlah pusat perbelanjaan modern baik unit-unit tokonya disewakan seperti yang ada di Mall/Plaza/Square maupun yang dijual (strata title) di berbagai ITC/International Trade Centre sudah mencapai 128 buah dengan total luas volume lebih dari 3,4 juta meter persegi, tidak termasuk gudung-gedung pasar tradisional yang dikelola oleh PD Pasar Jaya. Dengan jumlah warga kota sekitar 8,8 juta dan jumlah mall sebanyak 132 (Maret 2008), maka 1 mall dapat menampung 68.000 warga. Dengan luas total volume mall 3,4 juta m2­ berarti 1 m2 ­­­mall dapat menampung 2,5 orang. Jika 1 m2 dapat menampung 4 orang dalam posisi berdiri, maka seluruh warga Jakarta dapat ditampung dalam pusat-pusat perbelanjaan. Maka tak heran Jakarta merupakan kota yang memiliki indeks kepadatan mall dan luas mall peringkat 2 di Asia.

2.3.2        Pola Hidup Konsumtif
Mall didesain agar warga kota secara tidak sadar mau mematuhi apa yang para kapitalis inginkan dengan cara memanjakan mereka dengan berbagai citra semu, alunan musik yang membuai, pendingin ruangan yang menyejukkan, WC yang mewah, dan sebagainya. Mall memang menghadirkan berjuta kenikamatan yang setiap hari dapat dinikmati oleh warga kota padahal kenikmatan itu semu adanya. Makanan cepat saji menawarkan kemudahan, tetapi juga sekaligus  penyakit dan gangguan kesehatan. Minum kopi di mall menawarkan gengsi, tetapi juga sekaligus menguras isi kantong karena secangkir kopi di Cafe setara dengan 8 gelas kopi di warung tegal dan 20 sachet kopi jika buat sendiri di rumah. Warga kota menjelma menjadi manusia mall yang tidak memiliki kesadaran sendiri, tetapi semata-mata telah terprogram perilakunya, pergi ke mall, bawa uang, lihat-lihat, belanja, nongkrong, uang habis, lalu pulang.
Disamping itu, pola hidup konsumtif ini juga dipengaruhi oleh tuntutan dari gaya hidup baru yang mementingkan penampilan fisik sebagai sari pati dan nilai utama. Maka tak heran bila warga kota terobsesi dengan hal-hal yang  “harus lebih”, harus lebih bagus, harus lebih mahal dan diberikan citra mewah.

2.3.3        Pembunuhan Karakter Massal Di Mall
Di kota sebesar Jakarta memang banyak orang yang sukses dengan harta yang melimpah dan kedudukan tinggi. Namun sayang, banyak diantar mereka hanya memaknai sukses itu dari jumlah materi dan penampilan luarnya saja. Banyak yang tidak menyadari kesuksesan material justru biasanya merupakan kegagalan sosial, mental dan spiritual. Karena status yang tinggi orang menjadi enggan mendekat dan akhirnya menjadi dijauhi oleh tetangga, bahkan saudara dan keluarga.
Dengan materi yang melimpah, mereka sesegera mungkin dan mereka pun menyerbu mall, sebuah tempat yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan gaya hidup konsumtif, sehingga membuat sebagian orang menjadi materialistis, selalu berfikir bagaimana mendapatkan uang banyak dan kedudukan tinggi sehingga untuk mendapatkannya akhirnya menghalalkan segara cara walaupun harus mengorbankan tubuh, moral, dan iman. Sikut kanan sikut kiri, injak bawah, jilat atasan, nyatut didepan, korup di belakang menjadi hal yang lazim terjadi dalam kehidupan warga Jakarta.
Lebih jauh lagi, warga kota menderita deindividuasi, suatu kondisi psikologis dimana terjadi penurunan kesadaran diri sehingga individu akan melakukan segala hal yang tidak akan dilakukan jika sedang sendiri. Diskon, obral, dan cuci gudang telah mengondisikan warga kota yang berada dalam keramaian mall untuk berbodong-bondong membeli segala sesuatu yang ditawarkan mall tanpa pikir panjang lagi. Hal ini menyebabkan kehilangan control diri.


2.4Stres Perkotaan : Kegilaan Warga Kota
2.4.1        Kemacetan Lalu Lintas dan Polusi Udara
Stresor lingkungan perkotaan merupakan stresor gabungan (multiple stresor) yang datangnya bertubi-tubi. Misalnya, kemacetan lalu lintas yang didalamnya termasuk kebisingan dan kesesakan sebagai stresor utama. Disamping itu, stresor lainya seperti dikejar-kejar waktu, ancaman kriminalitas, sampai suhu udara yang panas.
Penelitian-penelitian laboraturium menunjukkan bukti bahwa perubahan suasana hati dipercepat oleh polusi udara, termasuk didalamnya asap rokok, bau badan yang menyengat juga dapat menimbulkan stress. Kondisi stresfull ini sangat mudah ditemui di terminal, stasiun, didalam bis kota, kereta api dan kendaraan umum lainnya yang biasanya penuh dan sesak oleh penumpang yang padat. Jadi tidak heran penumpang kendaraan umum memiliki prilaku yang sembarangan, serobot sana serobot sini, lompat sana lompat sini, meludah sana meludah sini, sebagai bentuk mekanisme penyaluran stress yang mereka hadapi sehari-hari. Tidak jarang fenomena main hakim sendiri muncul terhadap peristiwa-peristiwa yang sangat sepele sebagai sarana penyaluran stress.

2.4.2        Sampah dan Banjir Tahunan
Telah banyak penelitian mengenai reaksi psikologis terhadap jenis-jenis polusi, termasuk didalamnya limbah beracun dan lokasi-lokasi tempat pembuangan sampah warga. Batas-batas wilayah yang terpolusi oleh limbah atau sampah mempengaruhi proses identifikasi sosial masyarakat. Media massa sering kali mengidentifikasi sebuah lokasi dengan adanya pembuangan limbah, sehingga memberikan kesan negatif bagi warga yang tinggal di daerah tersebut. Kondisi ini disamping secara fisik menjadi sumber penyakit yang hakikatnya juga stresor, tetapi secara psikologis citra buruk sebuah daerah juga menciptakan tekanan sosial yang lain dan membuat warga disana merasa terbuang dan menjadi rendah diri sehingga berimplikasi pada prilaku mereka sehari-hari.
Sampah merupakan masalah klasik yang tak pernah tuntas. Padahal banjir merupakan stresor dan mengakibatkan trauma panjang bagi manusia. Kegiatan ekonomi lumpuh dan banyak keluarga menjadi pengungsi ketika datang banjir. Dari tahun ke tahun banjir di Jakarta semakin tinggi dan area penyebarannya semakin luas. Alasan lain yang menyebabkan banjir adalah semakin berkurangnya daerah resapan air akibat pembangunan mall, apartemen dan berbagai proyek lainnya, tanpa memperhatikan dampak ekologi dari proyek mereka.
Kebersihan lingkungan merupakan salah satu tolok ukur kualitas hidup masyarakat. Masyarakat yang telah mementingkan kebersihan lingkungan dipandang sebagai masyarakat yang kualitas hidupnya lebih tinggi dibandingkan masyarakat yang belum mementingkan kebersihan. Salah satu aspek yang dapat dijadikan indikator kebersihan lingkungan kota adalah sampah. Bersih atau kotornya suatu lingkungan tercipta melalui tindakan-tindakan manusia dalam mengelola dan menanggulangi sampah yang mereka hasilkan.
Rangkaian tindakan warga kota terhadap sampah merupakan proses yang dapat dibagi ke dalam lima episode perilaku sebagai berikut:
a.         Episode-Produksi, berbagai kegiatan manusia yang menggunakan benda-benda (materi) pada akhirnya akan menghasilkan suatu produk tertentu berikut benda-benda sisa atau barang-barang bekas yang tidak diperlukan lagi. Benda-benda tersebut berpotensi menjadi sampah bila tidak digunakan lagi.
b.        Episode-Buang, rangkaian tindakan menyingkirkan sampah ke suatu tempat atau menjauhkannya dari diri pelaku.
c.         Episode-Kumpul, rangkaian tindakan dimulai dari menyapu kemudian menggabungkan atau mengumpulkan sampah ke suatu tempat.
d.        Episode-Angkut, rangkaian tindakan memindahkan sampah yang sudah terkumpul dengan menggunakan alat angkut seperti gerobak sampah, mobil pick-up bak terbuka atau truk sampah, ke suatu tempat pembuangan sampah.
e.         Episode-Olah, rangkaian tindakan terhadap sampah yang bertujuan mengurangi, menghilangkan dan merubahnya menjadi benda yang bermanfaat.

2.4.3        Kriminalitas dan Tindakan Kekerasan
Kekerasan telah secara tidak proporsional menghantui kehidupan perkotaan karena warga koata mengalami tindak kejahatan dan kekerasan, seperti perkosaan, penganiayaan, perampokan, penyerangan, dan pencurian yang lebih kejam dari warga pedesaan atau pinggiran kota.
Untuk memahami penyebab tindakan kekerasan dan dampak tindakan kekerasan, para ahli psikologi melakukan strategi dan pencegahan yang terdiri dari 3 kategori :
a.         Intervensi komunitas untuk mengurangi tindak kekerasan termasuk siskamling.
b.        Intervensi keluarga untuk memantau pola asuh dan aspek lain dari fungsi keluarga, mengurangi resiko keterlibatan anak dalam tindakan kekerasan, dan mempromosikan perkembanangan positif anak/remaja.
c.         Intervensi individual, yang sering dilakukan untuk anak/remaja dalam mengubah pemahaman mereka terhadap tindakan kekerasan.

2.5  Mewujudkan Masyarakat Perkotaan Komunikatif

Teori Emil Durkheimmengenai masyarakat berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat. Dari waktu ke waktu, teori itu mengalami perkembangan dan perubahan bahkan ada yang turut tenggelam bersama dengan tumbuhnya teori baru. Dalam konteks itu, kita tidak bisa menyangkal bahwa perubahan-perubahan teori mengenai masyarakat itu terjadi di dalam suatu masyarakat yang dinamis dengan tingkat mobile yang tinggi.  Perhatian Durkheim yang utama adalah bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya di masa modern, ketika hal-hal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Untuk mempelajari kehidupan sosial di kalangan masyarakat modern, Durkheim berusaha menciptakan salah satu pendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena sosial. Bersama Herbert Spencer, Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme. Durkheim juga menekankan bahwa masyarakat lebih daripada sekadar jumlah dari seluruh bagiannya.
 Dalam bukunya “Pembagian Kerja dalam Masyarakat” (1893), Durkheim meneliti bagaimana tatanan sosial dipertahankan dalam berbagai bentuk masyarakat. Ia memusatkan perhatian pada pembagian kerja, dan meneliti bagaimana hal itu berbeda dalam masyarakat tradisional dan masyarakat modern. Ia berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat tradisional bersifat mekanis dan dipersatukan oleh kenyataan bahwa setiap orang lebih kurang sama, dan karenanya mempunyai banyak kesamaan di antara sesamanya. Dalam masyarakat tradisional, kata Durkheim, kesadaran kolektif sepenuhnya mencakup kesadaran individual (norma-norma sosial kuat dan perilaku sosial diatur dengan rapi). Sedangkan masyarakat modern menurut Durkheim, pembagian kerja yang sangat kompleks menghasilkan solidaritas organik. Spesialisasi yang berbeda-beda dalam bidang pekerjaan dan peranan sosial menciptakan ketergantungan yang mengikat orang kepada sesamanya, karena mereka tidak lagi dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka sendiri. Dalam masyarakat yang mekanis misalnya, para petani hidup dalam masyarakat yang swa-sembada dan terjalin bersama oleh warisan bersama dan pekerjaan yang sama. Dalam masyarakat modern yang organik, para pekerja memperoleh gaji dan harus mengandalkan orang lain yang mengkhususkan diri dalam produk-produk tertentu (bahan makanan, pakaian, dll) untuk memenuhi kebutuhan mereka. Akibat dari pembagian kerja yang semakin rumit ini, demikian Durkheim, ialah bahwa kesadaran individual berkembang dalam cara yang berbeda dari kesadaran kolektif, seringkali malah berbenturan dengan kesadaran kolektif.
Durkheim menghubungkan jenis solidaritas pada suatu masyarakat tertentu dengan dominasi dari suatu sistem hukum. Ia menemukan bahwa masyarakat yang memiliki solidaritas mekanis hukum seringkali bersifat represif. Sebagai contoh pelaku suatu kejahatan atau perilaku menyimpang akan terkena hukuman, dan hal itu akan membalas kesadaran kolektif yang dilanggar oleh kejahatan itu; hukuman itu bertindak lebih untuk mempertahankan keutuhan kesadaran. Sebaliknya, dalam masyarakat yang memiliki solidaritas organik, hukum bersifat restitutif, yaitu bertujuan bukan untuk menghukum melainkan untuk memulihkan aktivitas normal dari suatu masyarakat yang kompleks.
Proses perubahan dan pergeseran yang terjadi di masyarakat dapat terjadi ketika sistem regulasi sosial menjadi semakin longgar. Sebagai akibat dari tidak berfungsinya regulasi sosial di dalam masyarakat secara baik, maka terjadilah pertentangan-pertentangan seperti masyarakat tidak lagi mengikuti norma-norma yang berlaku, mulai meninggalkan adat istiadat, dan berakibat masyarakat membangun sistem regulasi sosial yang baru, dalam arti di sini adalah membangun suatu masyarakat tanpa hukum atau normless society. Untuk membuat suatu perubahan dalam masyarakat perkotaan yang mempunyai sifat individualis, masyarakat tidak mau bekerjasama dengan lingkungan sekitarnya adalah dengan cara mengolah kesadaran kolektif mereka untuk menata peran sosial dan membangun regulasi sosial yang lebih beradab. Perlu diterapkan regulasi sosial yang lebih longgar atau aturan yang fleksibel yang bisa diterima oleh masyarakat perkotaan agar masyarakat tersebut tidak lagi menjadi egois, atau individualis.
Jadi, perubahan masyarakat yang cepat karena semakin meningkatnya pembagian kerja menghasilkan suatu kebingungan tentang norma dan semakin meningkatnya sifat yang tidak pribadi dalam kehidupan sosial, yang akhirnya mengakibatkan runtuhnya norma-norma sosial yang mengatur perilaku. Durkheim menamakan keadaan ini sebagai anomie. Dari istilah anomie muncullah segala bentuk perilaku menyimpang, dan yang paling menonjol adalah bunuh diri. Hal ini dapat dirumuskan bahwa penyebab masyarakat beralih dari masyarakat desa menuju masyarakat modern adalah karena adanya pertambahan penduduk yang besar yang memaksa mereka untuk melakukan perubahan. Selain itu adanya kepadatan moral masyarakat, serta pertambahan komunikasi dan interaksi antara para anggota.
2.6Kota dan Masalahnya : Psikologi Perkotaan Sebagai Solusi
2.6.1        Urban Sprawl
Awalnya urban sprawl dikenal juga sebagai suburban sprawl, yaitu melebarnya daerah pinggiran kota ke lahan-lahan pedesaan sekelilingnya secara horizontal. Pelebaran ini memiliki beberapa masalah, yaitu :
a.         Menciptakan penduduk yang tergantung pada kendaraan.
b.        Penggunaan lahan yang boros karena kepadatan yang rendah.
c.         Zoning tunggal yang menyebabkan terjadinya segregasi fungsi kota, misalnya terjadi pengembangan untuk hunian (wisma) saja, sementara kegiatan ekonomi (niaga), rekreasi (suka), dan penyempurna tidak tersedia dengan memadai atau harus ditempuh dengan kendaran karena terlalu jauh.
Perkembangan kota yang tak terkontrol dan melebar kemana-mana menimbulkan banyak masalah psikologis, terutama yang terkait dangan stress berkelanjutan dan keletihan kronis akibat perjalanan panjang setiap hari. Dampak negatif lain urban sprawl, adalah sebagai berikut :
Ø  Menurunnya kesehatan membuat warga sangat tergantung dengan kendaraan sehingga meningkatkan obesitas dan penyakit darah tinggi.
Ø  Kerusakan lingkungan, terutama meningkatnya polusi dan ketergantungan pada bahan bakar fosil sehingga udara udara dipinggir kota menyumbang emisi karbon lebih besar dari warga.
Ø  Menurunnya modal sosial karena menciptakan penghalang jarak  untuk interaksi sosial dan cenderung mengganti ruang-ruang terbuka publik dengan ruang-ruang komersil.
Ø  Berkurangnya kualitas serta kuantitas tanah dan air akibat pemakaian lahan yang besar sering kali menghilangkan lahan pertanian dan merusak ekosistemnya serta mengurangi daerah tangkapan air.
Ø  Meningkatnya biaya infrastruktur dimana jalan-jalan tol yang lebar terpaksa harus dibuat lengkap dengan penerangan, drainase, serta sarana parker.
2.6.2          Jentrifikasi
Jentrifikasi adalah suatu fenomena dimana sebuah lingkungan fisik memburuk lalu direvitalisasi sehingga terjadi peningkatan nilai property disertai gelombang kedatangan warga kelas menengah-atas yang baru menggantikan warga asli yang miskin.
Bagi yang pro, jendrifikasi merupakan cara mengatasi permasalahan kota yang timbul akibat urban sprawl. Dari sisi produksi, jentrifikasi mampu menghilangkan kesenjangan aliran kapital dan proses pembangunan yang tak seimbang antara pusat kota dan pinggiran kota. Di sisi konsumsi, jentrifikasi mampu meningkatkan ekonomi perkotaan dan mencegah devaluasi nilai yang terjadi dalam kota akibat perpindahan modal ke pinggiran kota.
Bagi yang kontra, jentrifikasi membawa dampak sosial yang serius, seperti segregasi kelas sosial didalam kota, perubahan demografi kota akan merubah ukuran rumah tangga dan ketahanan lingkungan, meningkatnya nilai property yang menaikkan biaya perumahan, pajak tanah dan bangunan bagi warga sekitarnya, kecenderungan terjadinya praktik penggusuran, perubahan peruntukan lahan, dan pembebasan lahan secara membabi buta oleh para pengembang swasta.
2.6.3        Kesehatan Mental Warga Kota
Kesehatan mental tidak hanya berhubungan dengan karakteristik individu dan rumah tangga, tetapi juga dengan fitur-fitur sosial, konteks, dan ekologi dimana individu berada.
Menurut Krieger dkk (2003), sebuah daerah miskin di wilayah perkotaan dapat dapat dilihat dalam dua cara.
a.         Konteks, yaitu warga di daerah miskin memiliki kesehatan fisik dan mental yang buruk karena konsentrasi kemiskinan menciptakan interaksi-interaksi yang membahayakan.
b.        Kondisi lingkungan, yaitu daerah miskin yang memiliki sedikit fasilitas umum yang baik dan biasa berdekatan dengan lokasi industri sehingga memberikan dampak negatif bagi kesehatan.
Ellen, Mijanovich, dan Dillman (2001) menyimpulkan bahwa kualitas lingkungan yang buruk menurunkan tingkat kesehatan mental melalui 2 tahap, yaitu : secara langsung akan mempengaruhi perilaku, sikap, dan pemanfaatan layanan kesehatan, dan penglumrahan yang secara jangka panjang berhubungan dengan akumulasi stress dan sumber daya lingkungan yang terbatas.

BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Psikologi Perkotaan adalah bidang ilmu yang menganalisis pengaruh penataan ruang kota  terhadap faktor psikologis penghuninya. Dalam hal ini dapat digambarkan sebuah kota besar yang memiliki bangunan yang megah, berpenduduk padat dan memiliki banyak akses dalam memenuhi kebutuhan dan menjadi pusat pemerintahan.
Di perkotaan yang memiliki penduduk yang padat, tentu akan memiliki pula masalah-masalah yang kompleks yang tak ada habisnya. Diantaranya adalah masalah kemiskinan, sampah, banjir, kemacetan lalu lintas. Kemudian masalah yang menyangkut perubahan psikologi yang terjadi di masyarakat perkotaan yang cenderung individualistis akibat beberapa hal yang mempengaruhinya. Diantaranya terlalu terbuai oleh perkembangan teknologi yang merubah pola pikir masyarakat perkotaan. Keingianan warga kota yang ingin selalu tampil “lebih”, ingin lebih mewah, ingin lebih mahal, ingin lebih berbeda dan lain-lain.
Jadi, agar dapat meminimalisir kesemrautan kota, harus ada penataan kota agar nyaman untuk dihuni oleh warganya, dengan cara merancang kembali arsitektur kota sehingga desain kota menuju kea rah sejahtera.
3.2  Saran
Karena perkotaan memiliki berbagai macam permasalahan yang komplek, maka hendaknya harus ada kebijakan-kebijakan yang dapat memaksimalkan potensi suatu perkotaan yang ada. Kemudian hendaknya pemerintah kota Jakarta menata kembali desain kota yang lebih nyaman. Terutama pemukiman-pemukiman liar yang sangat berpotensi merusak tatanan kota, kemudian harus ada daerah resapan air yang maksimal, jangan hanya gedung-gedung tinggi yang dibangun.


DAFTAR PUSTAKA


Formica, M.J. 2010. The Science, Psychology and Metaphysics of Prayer. Diambil dari : http://www.psychologytoday.com/blog/enlightened-living/201007/the-science-psychology-and-metaphysics-prayer
Halim, DK. 2008. Psikologi Lingkungan Perkotaan. Jakarta : Bumi Aksara

REMAJA DAN PERMASALAHANNYA Perspektif Psikologi Terhadap Permasalahan Remaja Dalam Bidang Pendidikan


A.  Karakteristik Masa Remaja
Sebagai periode yang paling penting, masa remaja ini memiliki karakterisitik yang khas jika dibanding dengan periode-periode perkembangan lainnya. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :
  1. Masa remaja adalah periode yang penting
Periode ini dianggap sebagai masa penting karena memiliki dampak langsung dan dampak jangka panjang dari apa yang terjadi pada masa ini. Selain itu, periode inipun memiliki dampak penting terhadap perkembangan fisik dan psikologis individu, dimana terjadi perkembangan fisik dan psikologis yang cepat dan penting. Kondisi inilah yang menuntut individu untuk bisa menyesuaikan diri secara mental dan melihat pentingnya menetapkan suatu sikap, nilai-nilai dan minta yang baru.
b. Masa remaja adalah masa peralihan
Periode ini menuntut seorang anak untuk meninggalkan sifat-sifat kekanak kanakannya dan harus mempelajari pola-pola perilaku dan sikap-sikap baru untuk menggantikan dan meninggalkan pola-pola perilaku sebelumnya. Selama peralihan dalam periode ini, seringkali seseorang merasa bingung dan tidak jelas mengani peran yang dituntut oleh lingkungan. Misalnya, pada saat individu menampilkan perilaku anak-anak maka mereka akan diminta untuk berperilaku sesuai dengan usianya, namun pada kebalikannya jika individu mencoba untuk berperilaku seperti orang dewasa sering dikatakan bahwa mereka berperilaku terlalu dewasa untuk usianya.
c. Masa remaja adalah periode perubahan
Perubahan yang terjadi pada periode ini berlangsung secara cepat, peubahan fisik yang cepat membawa konsekuensi terjadinya perubahan sikap dan perilaku yang juga cepat. Terdapat lima karakteristik perubahan yang khas dalam periode ini yaitu, (1) peningkatan emosionalitas, (2) perubahan cepat yang menyertai kematangan seksual, (3) perubahan tubuh, minat dan peran yang dituntut oleh lingkungan yang menimbulkan masalah baru, (4) karena perubahan minat dan pola perilaku maka terjadi pula perubahan nilai, dan (5) kebanyakan remaja merasa ambivalent terhadap perubahan yang terjadi.
d. Masa remaja adalah usia bermasalah
Pada periode ini membawa masalah yang sulit untuk ditangani baik bagi anak laki-laki maupun perempuan. Hal ini disebabkan oleh dua lasan yaitu : pertama, pada saat anak-anak paling tidak sebagian masalah diselesaikan oleh orang tua atau guru, sedangkan sekarang individu dituntut untuk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Kedua, karena mereka dituntut untuk mandiri maka seringkali menolak untuk dibantu oleh orang tua atau guru, sehingga menimbulkan kegagalan-kegagalan dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
e. Masa remaja adalah masa pencarian identitas diri
Pada periode ini, konformitas terhadap kelompok sebaya memiliki peran penting bagi remaja. Mereka mencoba mencari identitas diri dengan berpakaian, berbicara dan berperilaku sebisa mungkin sama dengan kelompoknya. Salah satu cara remaja untuk meyakinkan dirinya yaitu dengan menggunakan simbol status, seperti mobil, pakaian dan benda-benda lainnya yang dapat dilihat oleh orang lain.
f. Masa remaja adalah usia yang ditakutkan
Masa remaja ini seringkali ditakuti oleh individu itu sendiri dan lingkungan. Gambaran-gambaran negatif yang ada dibenak masyarakat mengenai perilaku remaja mempengaruhi cara mereka berinteraksi dengan remaja. Hal ini membuat para remaja itu sendiri merasa takut untuk menjalankan perannya dan enggan meminta bantuan orang tua atau pun guru untuk memecahkan masalahnya.
g. Masa remaja adalah masa yang tidak realistis
Remaja memiliki kecenderungan untuk melihat hidup secara kurang realistis, mereka memandang dirinya dan orang lain sebagaimana mereka inginkan dan bukannya sebagai dia sendiri. Hal ini terutama terlihat pada aspirasinya, aspiriasi yang tidak realitis ini tidak sekedar untuk dirinya sendiri namun bagi keluarga, teman. Semakin tidak realistis aspirasi mereka maka akan semakin marah dan kecewa apabila aspirasi tersebut tidak dapat mereka capai.
h. Masa remaja adalah ambang dari masa dewasa
Pada saat remaja mendekati masa dimana mereka dianggap dewasa secara hukum, mereka merasa cemas dengan stereotype remaja dan menciptakan impresi bahwa mereka mendekati dewasa. Mereka merasa bahwa berpakaian dan berperilaku seperti orang dewasa sringkali tidak cukup, sehingga mereka mulai untuk memperhatikan perilaku atau simbol yang berhubungan dengan status orang dewasa seperti merokok, minum, menggunakan obat-obatan bahkan melakukan hubungan seksual.
B.  Tugas Perkembangan Masa Remaja
Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain :
  • ·         memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan
  • ·         memperoleh peranan sosial
  • ·         menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif
  • ·         memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
  • ·         mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri
  • ·         memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan
  • ·         mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga
  • ·         membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup

Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).
Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.

Tugas Perkembangan Remaja
Havigrust (dalam Muhammad Ali, 2008: 171) mendefinisikan tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar satu periode tertentu dari kehidupan individu dan jika berhasil akan menimbulkan fase bahagia dan membawa keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi kalau gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya.
Tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya meningkatkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan serta berusaha untuk mencapai kemampuan bersikap dan berprilaku secara dewasa. Adapun tugas-tugas perkembangan remaja menurut Hurlock ( dalam Muhammad Ali, 2008 : 10) adalah :
a.    Mampu menerima keadaan fisiknya;
b.    Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa;
c.    Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis;
d.    Mencapai kebebasan emosional dari orang dewasa;
e.    Mencapai kebebasan ekonomi;
f.     Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat;
g.    Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua;
h.    Mengembangkan perilaku tanggung jawab social yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa;
i.      Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan;
j.      Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.
Hal senada diungkapkan oleh Zulkifli (2005: 76) tentang tugas perkembangan masa remaja adalah :
©    Bergaul dengan teman sebaya dari kedua jenis kelamin
©    Mencapai peranan sosial sebagai pria atau wanita
©    Menerima keadaan fisik sendiri
©    Memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan
©    Memilih pasangan dan mempersiapkan diri untuk berkeluarga
Tidak semua remaja dapat memenuhi tugas-tugas tersebut dengan baik. Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu:
  1. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
  2.  Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.
C.  Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Masa Remaja
1. Perubahan Fisik Masa Remaja
a.       Tinggi badan
Rata-rata anak perempuan mencapai tinggi dewasanya pada usia 17/18 tahun dan
bagi anak laki-laki satu tahun lebih dari usia tersebut.
b.      Berat badan
Perubahan berat tubuh seiring dengan waktu sama dengan perubahan tinggi
badan, hanya saja sekarang lebih menyebar ke seluruh tubuh.
c.       Proporsi tubuh
Berbagai bagian tubuh secara bertahap mencapai proporsinya. Misal: badan lebih lebar dan lebih kuat.
d.      Organ seksual
Pada laki-laki dan perempuan organ seksual mencapai ukuran dewasa pada
periode remaja akhir, namun fungsinya belum matang sampai dengan beberapa
tahun kemudian
e.       Karakteristik sex sekunder
Karakteristik sek sekunder utama mengalami perkembangan pada level dewasa
pada periode remaja akhir.

2. Emosionalitas Masa Remaja
Selain terjadi perubahan fisik yang sangat mencolok, juga terjadi perubahan dalam emosionalitas remaja yang cukup mengemuka, sehingga ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dari perubahan pada aspek emosionalitas ini. Masa ini disebut sebagai masa “storm and stres”, dimana terjadi peningkatan ketegangan emosional yang dihasilkan dari perubahan fisik dan hormonal. Pada masa ini emosi seringkali sangat intens, tidak terkontrol dan nampak irrasional, secara umum terdapat peningkatan perilaku emosional pada setiap usia yang dilalui. Misalnya, pada usia 14 tahun, remaja menjadi mudah marah, mudah gembira, dan meledak secara emosional, sedangkan pada usia 16 tahun terjadi kebalikannya mereka mengatakan tidak terlalu merasa khawatir. Hal yang paling membuat remaja marah adalah apabila mereka diperlakukan seperti anak-anak atau pada saat merasa diperlakukan tidak adil. Ekspresi kemarahannya mungkin berupa mendongkol, menolak untuk bicara, atau mengkritik secara keras. Hal yang juga cukup mengemuka yaittu pada masa ini remaja lebih iri hati terhadap mereka yang memiliki materi lebih.

3. Perubahan Sosial pada Masa Remaja
Salah satu tugas perkembangan yang paling sulit pada masa remaja adalah penyesuaian sosial. Penyesuaian ini harus dilakukan terhadap jenis kelamin yang berlainana dalam suatu relasi yang sebelumnya tidak pernah ada dan terhadap orang dewasa diluar keluarga dan lingkungan sekolah. Pada masa ini remaja paling banyak menghabiskan waktu mereka di luar rumah bersama dengan teman sebaya mereka, sehingga bisa difahami apabila teman sebaya sangat berpengaruh terhadap sikap, cara bicara, minat, penampilan, dan perilaku remaja.
Perubahan dalam perilaku sosial terlihat dengan adanya perubahan dalam sikap dan perilaku dalam relasi heteroseksual, mereka yang tadinya tidak menyukai keterlibatan lawan jenis menjadi menyukai pertemanan dengan lawan jenis. Secara umum dapat dikatakan bahwa minat terhadap lawan jenis meningkat. Selain itu, perubahan sosial yang terjadi dengan adanya nilai-nilai baru dalam memilih teman, dimana sekarang remaja lebih memilih yang memiliki minat dan nilai-nilai yang sama, bisa memahami dan membuat merasa aman, dapat dipercaya dan bisa diskusi mengenai hal-hal yang tidak bisa dibicarakan dengan guru atau orang tua. Pada masa ini pun remaja memiliki keinginan untuk tampil sebagai seorang yang populer dan disukai oleh lingkungannya.
D.  Minat-Minat Pada Masa Remaja
Pada masa remaja terdapat minat-minat pada bidang kegiatan tertentu yang sangat beragam. Hal ini tergantung pada jenis kelamin, kecerdasan, lingkungan tempat tinggal mereka, kesempatan yang dimiliki untuk mengembangkan minat, apa yang diminati teman sebayanya, status dalam kelompok sosial, kemampuan bawaan, minat keluarganya dan beberapa faktor lainnya. Secara umum minat-minat remaja ini dapat dikategorikan menjadi :
1)      Minat Rekreasi
Pada masa ini sudah muncul minat rekresi seperti halnya orang dewasa.
Banyaknya hegiatan dan tuntutan baik di sekolah maupun dirumah dirasakan
penting memiliki sarana rekreasi bagi remaja, Misalnya : permainan dan olah
raga, santai, traveling, hobi, menari, membaca, film, radio, televisi dan melamun.
2)   Minat Sosial
Perkembangan minat sosial tergantung pada kesempatan yang dimiliki remaja
untuk mengembangkan minta ini dan sebagian tergantung seberapa populer dia di
dalam kelompok sebayanya.
3)      Minat Pribadi
Minat pada dirinya sendiri merupakan minat terkuat pada masa remaja, hal ini
disebabkan karena mereka menyedari bahwa penerimaan dari sosial dipengaruhi
oleh penampilan umum mereka, misalnya : penampilan, pakaian, prestasi,
kemandirian, dan uang yang merupakan simbol status.
4)      Minat terhadap Pendidikan
Pada remaja awal biasanya memberikan kritik atas sekolah secara umum dan
mengenai larangan, PR, kursus yang dibutuhkan, makanan di kantin dan
mekanisme belajar di sekolah. Mereka kritis terhadap guru dan cara mereka
mengajar. Pada remaja akhir sikap terhadap pendidikan lebih banyak dipengaruhi
oleh minat pekerjaannya.
5)        Minat terhadap pekerjaan
Pada masa ini anak laki-laki maupun perempuan mulai untuk memikirkan secara
lebih serius tentang masa depan mereka. Anak laki-laki lebih perhatian terhadap
pekerjaan di masa depan dibanding anak perempuan. Anak laki-laki lebih
menginginkan pekerjaan yang mewah, menarik dan memiliki gengsi yang tinggi,
sedangkan anak perempuan lebih memilih pekerjaan yang lebih aman dan tidak
menyita waktu.
6)      Minat religious
Para remaja sekarang ini tertarik pada agama dan merasa bahwa hal tersebut
memiliki peran yang penting dalam kehidupan mereka.
7)      Minat dalam simbol status
Pada masa remaja simbol status memiliki empat fungsi penting yaitu :
mengatakan pada orang lain bahwa mereka memiliki status sosioekonomi yang
lebih tinggi dari yang lain, remaja yang superior dinilai memiliki prestasi oleh
kelompoknya, remaja diterima oleh kelompoknya karena kesamanan tampilan dan
tindakan, dan remaja memiliki status yang mendekati dewasa.

E.  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Remaja Terhadap Pendidikan
Menurut Hurlock (1980), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi sikap remaja terhadap pendidikan, yaitu :
a)      Sikap teman sebaya – apakah mereka berorientasi untuk melanjutkan kuliah atau berorientasi kerja.
b)      Sikap orang tua – apakah orang tua menialai bahwa sekolah merupakan sarana peningkatan status sosialnya atau hanya sekedar tuntutan untuk menyekolahkan saja.
c)      Tingkatan, yang menunjukkan kesuksesan atau kegagalan remaja secara akademis.
d)     Relevansi atau nilai praktis dari bermacam-macam pelajaran.
e)      Sikap terhadap guru, pegawai administrasi, kebijakan-kebijakan akademik  dan disiplin.
f)       Sukses dalam kegiatan ekstrakurikuler
g)      Derajat penerimaan sosial oleh teman sekelasnya.

F.  Tipe-Tipe Remaja Yang Memiliki Sedikit Minat Dalam Pendidikan
a)      Remaja yang orang tuanya memiliki aspirasi yang tidak realistis terhadap prestasi akademis, olah raga dan sosial sehingga memaksa anak-anaknya untuk meraih target yang ditentukan mereka.
b)      Remaja yang kurang diterima oleh teman sekelas dan mereka yang merasa kehilangan kesenangan seperti teman-temannya dalam kegiatan ekstrakulikuler.
c)      Remaja yang matang lebih awal dan merasa lebih mencolok dibandingkan teman sekelasnya, sehingga seringkali diharapkan untuk bisa melakukan tugas-tugas akademis melebihi dari kemampuannya.

G.  Tanda-Tanda Bahaya Dari Maladjustment Remaja
Dengan adanya perubahan yang terjadi dalam fisik, psikologis dan sosial pada remaja yang sangat cepat dan drastis menuntut remaja tersebut untuk bisa menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut dan tuntutan-tuntutan lingkungan baru yang menyertainya. Pada kenyataannya tidak semua remaja dapat menyesuaikan dengan perubahan tersebut, berikut adalah beberapa tanda-tanda penyesuaian diri yang salah pada remaja :
a)      Tidak bertanggung jawab, misalnya mengabaikan sekolah.
b)      Agresif secara berlebihan dan sikap yang tertalu yakin atas dirinya.
c)      Perasaan tidak aman, yang menyebabkan remaja harus menyesuaikan dengan standar kelompok.
d)     Homesickness
e)      Menghayal secara berlebihan sebagai upaya untuk mengkompensir ketidakpuasan dari kehidupan sehari-hari.
f)       Regresi perilaku ke tingkat perkembangan yang lebih awal, misalnya ngompol, ngamuk pada saat marah dan lain-lain.
g)      Menggunakan defense mechanism secara berlebihan, seperti rasionalisasi, proyeksi, fantasi, dan displacement.


H.  Cara-Cara Orang Tua Untuk Menangani Masalah Remaja
Adanya tanda-tanda kesalahan penyesuaian diri remaja tentu saja menuntut penanganan yang cepat dan tepat, mengingat masa ini merupakan masa penting yang menentukan individu pada masa berikutnya. Penanganan atas permasalahan remaja sangat bervariasi dan tergantung dari konteks dan latar belakang permasalahannya, dan juga upaya-upaya ini idealnya merupakan hasil kerjasama orang tua, guru dan pihak-pihak lain yang terkait. Secara umum ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mencegah dan menangani munculnya permasalahan ini, antara lain :
a)      Memahami dan mendengarkan keluhan remaja dengan penuh perhatian, pengertian dan kasih sayang.
b)      Memberikan penghargaan terhadap prestasi studi/prestasi sosial, seperti olahraga, kesenian atau perbuatan-perbuatan baik yang ditunjukkan remaja baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat
c)      Banyak berdiskusi tentang berbagai hal yang terjadi di lingkungan sosial maupun lingkungan sekolahnya serta orientasi masa depan yang akan direncanakan remaja.
d)     Realistis dan bersikap objektif terhadap anak, sehingga idealnya orang tua mengetahui kapasitas anak dan mendiskusikan target apa yang ingin dicapai.
e)      Mulai menyertakan remaja dalam pengambilan keputusan keluarga. Hal ini mendidik anak untuk ikut bertanggung jawab dan melatih mereka dalam proses problem solving dan decision making.
f)       Mendukung ide-ide remaja yang positif.
g)      Mengawasi kegiatan dan lingkungan sosial remaja secara proporsional, tidak terlalu ketat atapun terlalu longgar.
h)       Jika ada indikasi ketidakberesan yang serius, baik dalam segi fisik ataupun psikologis yang cukup mencolok segera konsultasikan dengan tenaga ahli seperti dokter atau psikolog.

I.  Kiat-Kiat Sukses Dalam Pendidikan Untuk Remaja
a)      Tentukan tujuan dan target yang akan dicapai, sehingga pengerahan sumber daya yang dimiliki akan lebih tepat.
b)      Kenali diri, baik berupa kelebihan dan kekurangan karena semakin remaja mengenai dirinya akan semakin terarah tindakannya.
c)      Tekun dan jangan cepat menyerah.
d)     Berpikir sebelum mengambil suatu keputusan.
e)      Openminded dan jangan sombong.
f)       Jangan malu bertanya dan jangan takut salah.
g)      Hati-hati memilih teman dan lingkungan pergaulan.
h)      Hormat kepada guru, orang tua dan teman.
i)        Mengembangkan empati dalam bergaul.
j)        Berusaha dan berdo’a
k)      Bicaralah pada orang tua jika ada permasalahan yang sulit, karena tidak semua masalah bisa ditangani sendiri.
l)        Apabila perlu, dapat berkonsultasi dengan ahli (misal : psikolog, konselor pendidikan, dll)

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson & Atkinson. 1998. Pengantar Psikologi, edisi kesebelas. Batam : Interaksara.